Sinopsis Drama Korea: Paradise Ranch Episode 1 Part 2

Seorang wanita cantik berjalan kearah Dong Joo, "Apakah ada masalah?" Tanyanya kemudian.
"Ah.. tidak." Jawab Dong Joo "Dimana kopermu?"
"Di kamarmu."
"Di kamarku?"
"Hmm... bukankah disana ada dua tempat tidur?" wanita itu tersenyum. Dong Joo tertawa mendengarnya.

Mereka berjalan dipantai, berbincang dengan akrabnya. Wanita itu menggoda Dong Joo karena sang kakek begitu tega membiarkan Dong Joo yang tidak menyukai kuda malah menyuruh Dong Joo melakukan hal itu.Dong Joo berkata kakek nya memiliki cucu yang malas dan tidak berguna seperti dirinya. Tak disangka Wanita itu mengeluarkan kamera dan memfoto Dong Joo. Wanita itu menghiburnya dengan mengatakan Dong Joo seorang yang hebat. Dong Joo tersenyum, wanita itu memeluknya. "Tidak kah ini terlalu cepat? Dong Joo ah, jika kau merasa hal yang sama dalam tiga detik, ayo kita berkencan." katanya lagi. Dong Joo terlihat kikuk. Lalu mereka berjalan lagi menyusuri pantai sambil bercanda gurau.



Dilain tempat, Da Ji minum bersama Edward, "Dalam hitungan 10, lupakan semua hal... lupakan semuanya." Da Ji meneguk minumannya. Da Ji benar-benar stress karena harga tak terkira dari lelang kuda valpony itu. Jika Tuan Yang (boss nya) mengetahui apa yang terjadi disini, alamat ia akan menjadi orang suruhan Tuan Yang seumur hidupnya. Mendengar ini, Edward tertawa. "Aku tidak sedang bercanda." ucap Da Ji gusar, "Ah.. Termasuk denda karena membatalkan kontrak, masih tersisa 15.000.000 Won, Kuda jenis apa yang bisa aku beli hanya dengan uang segitu?" Da Ji mengeluh kesal.. "Sepertinya.. Aku bisa membantumu." kata Edward. "Eh??" Da Ji terbelalak dengan mata bulatnya.



Esok nya, Da Ji dan Edward pergi melihat-lihat kuda. Tetapi Da Ji justru memperhatikan bagian kelamin dari kuda itu (Lagi-lagi emotion lucu warna kuning menutupi bagian ekstrim, bikin geli aja.. hahaha...). Da Ji geleng-geleng kepala. Penasaran, Edward turun berjongkok, "Apa yang kau lihat? Kenapa begitu serius?" tanya nya pada Da Ji.

"Eh..?" Da Ji segera bangun, "Kuda ini, sepertinya sangat normal. Kita perlu melihat yang lain" ucapnya, lalu setengah menyeret Edward yang kebingungan menjauhi kuda itu.
"Apa nya yang normal? Yah Da Ji Ssi..." tanya Edward bingung.

Da Ji akhirnya menemukan kuda yang disukainya, "Ahjussi menurutmu bagaimana?" tanya nya pada Edward. (sedikit aneh ya, Da Ji manggil doi ahjussi.. padahal belum tua-tua banget kok.. hihi). "Ok" kata Edward, Da Ji berteriak girang, dan adu toss dengan Edward. Di arah belakang, Dong Joo datang dan melihat sang mantan istri akrab dengan Edward, Raut kesal diwajahnya jelas terlihat.


 

Dong Joo menelpon seseorang, merencanakan agenda rapat dengan presiden direktur (kakeknya) tentang kegagalan pembelian kuda itu. Sementara Da Ji mengiring kuda nya dimasukkan ke mobil. Ia menoleh kearah Edward yang sedang menelpon. Selesai menelpon, Edward menghampirinya.
"Aku sangat berterimakasih pada mu ahjussi, kau benar-benar penyelamatku." ucap Da Ji

"Aku juga mempunyai hari yang baik karenamu Da Ji Ssi, Benar-benar baik." kata Edward seraya tersenyum. Da Ji tersipu malu, tapi raut wajahnya berubah saat melihat Dong Joo sedang berjalan dengan wanita yang ia temui dikamar Dong Joo itu,


Edward mengikuti arah pandangan Da Ji dan melihat mereka "Apakah itu yang kau sebut tempo hari?"


Da Ji mengangguk. Dong Joo melihat Da Ji, bahkan dengan sengaja memegangi bahu wanita itu. Melihat ini, Da Ji menundukkan kepalanya. Melihat ini, Edward turun tangan, ia melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Dong Joo. Dong Joo melihat itu, Ia menjadi panas.


"Ia cantik dan juga memiliki selera pakaian yang bagus. Tapi menurutku, Kau lebih menarik." Edward menghibur Da Ji.
"Ah... kenapa kau mengatakan hal seperti itu tiba-tiba?" Da Ji malu -malu.


Lalu Da Ji mengantar Edward ke mobilnya. Da Ji memuji mobil Edward, "Kau pasti mendapatkan banyak uang karena membalap kuda" ucapnya kagum. Edward tersenyum mendengarnya. Da Ji lalu menyerahkan kartu nama, mengatakan ia bekerja pada sebuah peternakan di pulau Jeju. Ia juga berjanji akan menjad spesiall guide jika Edward datang berkunjung ke peternakannya. Edward masuk kemobilnya, dan mereka berpisah.
 

Dikantornya, Ayah Dong Joo mendapat masalah dari mantan istrinya (Ibu Dong Joo) yang menginginkan sebagian dari total aset perusahaan miliknya. Padahal sebelumnya ayah Dong Joo terkesan memandang rendah sang istri. (Haha.. Keren..! Time to ladies).


Dibandara, Da Ji mendapat kejutan. Dokter yang menangani kuda mereka telah menunggunya. Sang Dokter itu jelas menunjukkan kekagumannya pada Da Ji karena hasil lelang itu. Lebih jauh, sang dokter sepertinya tertarik pada Da Ji. Awalnya Da Ji kaget dan juga kikuk, tetapi tidak lama kemudian ia berkata, "Aku sudah menikah". Saking kagetnya, Sang Dokter mengerem mendadak mobilnya.

"Me.. Menikah.. Artinya.. " Sang Dokter terbata-bata berbicara.
"Ah.. Tapi telah bercerai, setelah menikah 6 bulan." jawab Da Ji canggung melihat reaksi dokter itu. "Bagaimanapun juga itu masa lalu..." Sambungnya.

Pangeran kita tampan sekali saat tidur.. ^^
Dong Joo sedang tertidur, tetapi dibangunkan oleh ibunya. "Sudah jam 6, apa kau tidak akan pulang?" tanyanya pada Dong Joo.
"Kenapa? Apa ibu akan bertemu pacar ibu?" Dong Joo balik bertanya. (Whoa.. berani sekali nanya begini ke nyokap, kalo aku sih ga bakal berani. ckckck)
"Yah.. tutup mulutmu.. Apa perlu kalau kita makan dulu sebelum kau pergi? Disana ada toko yang menjual makanan enak."
"Tidak perlu" ucap Dong Joo sambil bangkit. "Omma (Ibu), apa kau bahagia seperti ini?" tanya nya kemudian.

"Hmm.. sangat bahagia." Ucap sang ibu.
"Aiissh... Ini bukan permainan, Lebih baik cepat akhiri semua ini dan pulang kerumah. Menggunakan surat refleksi diri sama saja artinya dengankau  mengembalikan suamimu hanya untuk biaya hidup, apa itu masuk akal?"
"Ayahmu telah melakukan banyak hal, dan ia harus minta maaf pada ibu. Ibu bisa apa? Satu-satunya hal yang bisa mengontrol ayahmu adalah uang." Dong Joo tersenyum mendengar ucapan ibunya.

"Apakah kau tidur dengan Jin Young?" Tiba-tiba ibu nya bertanya. Seketika Wajah Dong Joo berubah. "Setelah bercerai, aku pikir kau tidak akan pernah menyukai seseorang lagi. Meskipun aku berterima kasih karena ia 'membebaskanmu' tapi sepertinya cintamu hanya sepihak, itu membuatku sedih " kata ibunya itu.
"Ehm.. Ehmm..." Dong Joo berdehem gugup, "Sebaiknya kita tidak perlu terlalu blak-blakan" ucapnya lagi.
"Apa kau bahagia?" tanya sang ibu.
"Kenapa tiba-tiba menanyakan hal seperti itu?" Dong Joo tertawa.
"Hidup itu singkat, kau harus berbahagia... Ibu hingga setua ini, melakukan semua hal untuk kebahagian."
"Aku akan pergi ke Pulau Jeju, Kakek mengancam akan mencabut kartu kreditku."
"Kau.. berapa lama kau akan terus begini?" Keluh sang ibu.

"Kakek memintamu sering-sering menelpon." Dong Joo berdiri, dan mencium lembut pipi ibunya. "Nyonya Li jaga dirimu, jangan bertemu laki-laki sembarangan." ujarnya sebelum pergi. Ibunya tertawa mendengar ucapan Dong Joo.

Kakek Dong Joo tengah memimpin rapat, seorang karyawan sibuk menguraikan presentasinya, akan tetapi tiba-tiba memberikan isyarat tangan dan lampu kembali menyala (dengan kata lain, menghentikan presentasi itu). "Pada pembelian semua resort ini saja telah menelan biaya sangat banyak, Mengapa kita harus memperluas lahan untuk skala biaya yang semahal ini ?" Ujar kakek Dong Joo.
"Ah... Golf, tunggangan kuda, akan menuntun resort kita menjadi resort top di Asia, Uang ini masih belum cukup, presiden.." Ayah Dong Joo mengemukakan pendapatnya. "Para investor menginginkan resort top kelas dunia..." Belum sempat ayah Dong Joo menyelesaikan ucapannya, kakek Dong Joo memotong ucapannya. "Teratas.. Terbaik... Keadaan yang saat ini telah sangat bagus.."

"Tetapi presiden, proposal dari investor luar telah diverifikasi oleh sidang dewan, Utusan dari perusahaan US FRIEND juga disini." Seorang karyawan angkat bicara.
" Setelah mendengar FRIEND berinvestarsi di Resort kelas atas, banyak investor yang akan berinvestasi diresort kita." Ayah Dong Joo membela ucapan si karyawan itu.

Dong Joo tiba diresort bersama asistennya. Asisten itu mengatakan sebaiknya Dong Joo mengecek pembelian peternakan yang akan mereka beli secepatnya. Dong Joo kesal, dan meminta asistennya itu menanganinya sendiri. Ia melangkah hendak pergi, "Anda... apakah anda telah membeli kuda volpony itu? Presiden..... Ah ini tidak akan membuat nyaman" kata asistennya gugup.  Dong Joo menghela napas kesal.




"Ayo... Ayo Paulist jalan..." Da Ji menyeret kuda barunya itu. Ia menepuk-nepuk sang kuda. "Aigo, sepertinya anak ini belum beradaptasi pada lingkungan barunya. Ayo paulist jalan..." Da Ji berusaha menyeret kudanya yang tidak mau beranjak. Ahjusshi tegak berpangku tangan melihat usaha sia -sia Da Ji, "Bicara tentang perbedaan waktu, Australia dan Korea hanya punya perbedaan waktu 2 jam. Aku tahu dengan sangat jelas Da Ji.." Ahjusshi itu mencemooh Da Ji. Da Ji menyengir, "Lihat Ahjusshi, karena perubahan lingkungan yang mendadak, mental kuda ini masih belum...." Ahjusshi itu cepat-cepat memotong ucapan Da Ji, "Aigo, Kau hanya tahu bagaimana cara membual.. Jangankan berlari, kuda ini bahkan tidak bergerak sedikitpun, Kau hanya membawakanku kuda yang hanya bisa makan, minum, dan buang kotoran. Aku.. aku tidak akan memberikanmu 5.000.000, Pertama,  serahkan beban bidang 2000 kuda..." Da Ji kaget mendengarnya..
"Ahjusshi.. seminggu lagi.. Berikan aku waktu seminggu lagi." Da Ji memohon. "Kuda ini masih butuh waktu untuk adaptasi..."
"Adaptasi apa? Kau pikir ini ARMY?"

Telepon Da Ji berbunyi, orang yang ditelpon mengatakan padanya bahwa ia telah membeli kuda vony colt, Da Ji mengatakan kuda itu tengah hamil dua bulan. Tetapi Da Ji terkejut, orang yang ditelepon mengatakan sesuatu padanya.
Disekolah, seorang gadis tengah memberikan arahan pada teman-teman nya yang hendak difotoinya. Selagi mereka berdebat, Gadis itu akhirnya marah karena kameranya dikatakan kamera rusak oleh salah seorang temannya. "Kau tahu berapa harga kamera ini?" ucap gadis itu marah.

"1.000.000 Yuan... " seseorang menyahuti ucapan itu. Gadis itu menoleh kearah suara, mendadak gugup melihat Da Ji dengan ekspresi angker berdiri didepan pintu. "Kau anak bandel, Kau sangat pintar bahkan menjual kuda yang belum lahir." ujar Da Ji pada gadis yang tidak lain adalah adiknya itu. Sang adik berusaha cool, "Ayo keluar sebentar." ucapnya. Da Ji menggertakkan kepalanya, melihat itu, adiknya melangkah mundur... "Kau... Jangan lari...." tetapi adiknya telah lari lebih dahulu. Terjadilah kejar-kejaran adik beradik disekolah itu.
Da Ji menang, adiknya dihukum. "Kau gadis kecil.. Setelah aku pergi ke Seoul, berapa besar kau membuat kakakmu khawatir aku bahkan tidak perlu berpikir untuk tahu." Ayah nya mengomeli adik Da Ji.
"Aku satu-satunya yang membiarkan kakak khawatir? Ayah membuat tanggungan yang salah, untuk membayar hutang itu...." Adik Da Ji berhenti berbicara melihat ayahnya menundukkan kepala. Ia terlihat menyesal dengan ucapannya. Da Ji datang membawa keranjang, Adiknya menatap dengan penuh kekesalan.


"Dia telah memanggil Mr. Jin, dan setuju untuk mengembalikan uang itu.... Ayah minta maaf padamu." Ayah Da Ji memegang bahu Da Ji.
"Ayah.. Aku sangat bahagia saat ini, Keluarga kita sehat, semua hal dipertenakan ini juga berjalan lancar. Apa lagi yang aku perlukan?" Da Ji menghibur ayahnya, tetapi sang adik diam-diam mencemooh ucapannya itu.
"Ayah.. Mengambil foto juga bisa menghasilkan uang, jika kita bisa membantu turis mengambilkan foto." Adik Da Ji mencoba memenangkan hati ayahnya. Da Ji pun membantuk adiknya berbicara "Karena Dou Ji benar-benar menyukai fotografi, ia bisa membantu pengunjung mengambil gambar diakhir minggu dan menguploadnya di website kita, bukankah itu ide yang bagus? Ini juga bisa membantu mempromosikan peternakan kita." ucapnya pada ayahnya. Dou Ji mengangguk-angguk menyetujui ucapan kakaknya.

Sebuah mobil memasuki peternakan, Dong Joo keluar dari mobil itu. Asistennya mendekat, "Peternakan ini mengadaptasi konsep peternakan di Amerika, menduduki 30% peternakan yang kita beli." kata asistennya itu.
"Kenapa ini membeli ini?" tanya Dong Joo
"Pemandangan disekitar sini luar biasa..." selagi asistennya berbicara Dong Joo sudah beranjak pergi.

Da Ji masih dalam usaha menyeret kudanya yang tidak berhenti makan itu (Hhahahaha...). Putus asa, ia memarahi kudanya itu, dan menantang siapa yang akan menang diantara mereka. Ia menyeret kudanya kuat-kuat, tiba-tiba ia melihat Dong Joo, disaat yang sama Dong Joo melihatnya. Dong Joo berjalan kearah Da Ji, "Kenapa kau ada disini?" tanya Da Ji.



"Jangan bilang kau kesini untuk melihatku." seketika saja narsis nya kambuh. (wkwkwkw... Da Ji.. ckckck)
"Kenapa kau disini?" Dong Joo balik bertanya.
"Aku pemilik peternakan ini, jelas aku ada disini. Kenapa? Apa kau berencana membuatku pergi lagi?"
Dong Joo tidak menjawab, tetapi bertanya pada asistennya. "Apakah ini yang kita beli?"
"Ya.. mulai dari mulai dari konstruksi depan." jawab asisten Dong Joo
"Dari konstruksi depan? Kami baru saja membelinya kembali seminggu yang lalu" kata Da Ji.

Kening Dong Joo mengkerut, "Tanah yang kami beli, peternakan 48-3" kata asisten Dong Doo.
"Peternakan 48-3? Disini... Jelas disini." kata Da Ji. Dong Joo menyadari ada yang tidak beres, "Apakah dalam hal itu, pelatih kuda Park yang mengatakan menjual bagian tanah ini?" tanya Da Ji.

"Apa sudah kau konfirmasi?" tanya Dong Joo pada asistennya.
 "Ini...Ini bukan kontrak yang aku tanda -tangani secara lansung, tetapi melalui perantara." Jawab asistennya bingung.
"Aku bertanya padamu, apa kau yakin telah dikonfirmasi?" Dong Joo membentak asistennya itu. Da Ji mendekati Dong Joo dan berbisik "berdasarkan apa yang aku pikir, sepertinya kau telah ditipu." katanya pada Dong Joo. "Aku sebenarnya mendengar orang-orang ingin membeli peternakan ini, tetapi aku menandatangani kontrak seminggu yang lalu." ucapnya lagi. Dong Joo terkejut mendengarnya.

Da Ji berusaha menelpon orang yang memberikan kontrak padanya (Tuan Park), namun tidak ada jawaban. Akhirnya mereka berbincang, Da Ji mengatakan sekarang dirinya adalah Dokter Hewan. Asisten Dong Joo datang membawakan dokumen, yang menyatakan perusahaan mereka telah sah menjadi pemilik peternakan itu atas nama Han Dong Joo, Dong Joo terkejut karena namanya ada dikontrak itu sementara ia tidak tahu menahu.



Da Ji pun panik, berusaha menelpon tuan Park tetapi tetap tidak ada jawaban. Ia berlari keluar, disaat yang sama, Edward datang dan memasuki resort. Ternyata Edward lah yang menjadi utusan perusahaan FRIEND dan rapat dengan Dong Joo.


Da Ji berlari ke rumah tuan Park, tetapi yang ia temukan adalah sekelompok orang yang juga mencari tuan Park, yang jelas-jelas juga mereka ditipu!. Da Ji lunglai, tidak menyangka ia akan menemukan hal seperti ini.

Edward menemui Dong Joo, Dong Joo jelas kaget karena tidak menyangka Edward lah utusan dari perusahaan Friend yang akan meeting dengannya. Ketidaknyamanan jelas terlihat diwajahnya, (mungkin karena kejadian di Australia). Asisten Dong Joo mengenalkan Edward, Edward pun mengenalkan dirinya pada Dong Joo, "Senang bertemu denganmu, Aku Seo Yun Ho." (Yapp.. akhirnya ia menggunakan nama korea nya. Mulai sekarang kita akan mengenal Edward ini sebagai Seo Yun Ho.).


Dalam rapat, Dong Joo sedikit kikuk, tidak begitu dengan Yun Ho (Ehh.. kok namanya kek nama u-know yunho oppa yah? ckckckck). Ia terlihat santai, bahkan dalam rapat seolah tidak ada apa-apa, bisa jadi juga ia tidak ingat dengan kejadian antara ia - Da Ji - Yun Ho - diaustralia beberapa waktu lalu itu.


Yun Ho dan asistennya terlibat pembicaraan mengenai rapat yang mereka lakukan sebelumnya. Asisten Yun Ho menerangkan tentang asosiasi Dong Joo, Bahwa sebenarnya yang memegang tampuk kendali  Lee Tae Han, bahkan Dong Joo tidak punya kendali sedikit pun pada perusahaan Dong Ren Group. Yun Ho berkata, "jika seperti itu bukankah namanya merendah kan kita dengan mengirim Dong Joo dalam rapat pertama", Asistennya tersenyum tipis, "Selama periode ini, kita diberikan pelayanan, dan hanya akan menghadiri konferensi orang dalam." ujar asisten itu. Yun Ho mengangguk, "Baiklah... kita lihat saja sebagus apa tempat yang mereka beli." ucapnya kemudian.


Dipeternakan, Da Ji tidak luput dari masalah, Tuan Yang menuntut uang nya dikembalikan, karena kuda yang dibeli Da Ji masih tidak menunjukkan perubahan. Da Ji berusaha membujuk tuan Yang, namun tuan Yang tidak bergeming sedikitpun, akhirnya Da Ji mengambil langkah seribu. "Ahjusshi... tunggu hingga aku kembali aku pasti akan....." Teriakan Da Ji terhenti karena ia menabrak seseorang. Ia adalah Yun Ho. Da Ji meringis kesakitan.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Yuh Ho
"Hah..?" Da Ji kaget, tetapi wajahnya berubah girang melihat orang yang ditabraknya tidak lain dan tidak bukan adalah sang penolongnya di australia. "Ahjusssi...." Da Ji berteriak girang.


Bersambung....


0 komentar:

Posting Komentar

Annyeonghaseyo^^


Silakan copy + paste konten-konten didalam blog ini, Tapi harap cantumkan nama / link blog ini didalam paste an nya ya.. Unique bakal makasih banget kalo nama / link dalam blog ini juga diikutsertakan dalam copy+pasteannya. Gomawoyo ^_^

Pengikut:

KPOP

ARCHIVE

Korean drama lovers. - Unique -. Diberdayakan oleh Blogger.